JUJUR adalah sebuah kata yg indah didengar ,tetapi tidak seindah mengaplikasikan dalam keseharian. Tidak pula berlebihan, bila ada yang mengatakan “jujur” semakin
langka dan terkubur, bahkan tidak lagi menarik bagi kebanyakan orang.
Semua orang paham akan maknanya, tetapi begitu mudah mengabaikannya.
Yang lebih berbahaya lagi adalah ada orang yang ingin dan selalu
bersikap jujur, tapi mereka belum sepenuhnya tahu apa saja sikap yang
termasuk kategori jujur.
Jujur tidaklah dimulai dari “warung
kopi”, sebagaimana asumsi sementara orang, jujur sebuah nilai abstrak,
sumbernya hati, bukan pada omongannya. Jadi “jujur” sebuah nilai
kesadaran “imani”, dimulai dari suara hati, bukan di warung munculnya
kejujuran. Kualitas imanlah yang dapat mengantarkan seseorang menjadi
jujur. Kata jujur adalah kata yang digunakan untuk menyatakan sikap
seseorang.
Jika ada seseorang berhadapan dengan sesuatu atau
fenomena, maka orang itu akan memperoleh gambaran tentang sesuatu atau
fenomena tersebut. Jika orang itu menceritakan informasi tentang
gambaran tersebut kepada orang lain tanpa ada “perubahan” (sesuai dengan
realitasnya) maka sikap yang seperti itulah yang disebut dengan jujur.
Dengan kata lain seseorang dikatakan jujur, bila ucapannya sejalan
dengan perbuatannya.
Jadi yang disebut dengan jujur adalah sebuah
sikap yang selalu berupaya menyesuaikan atau mencocokkan antara
Informasi dengan fenomena atau realitas. Dalam agama Islam sikap seperti
inilah yang dinamakan shiddiq. Makanya jujur itu ber-nilai tak
terhingga. Karena semua sikap yang baik selalu bersumber pada
“kejujuran”. Merupakan suatu keindahan bila setiap individu bersikap
jujur terhadap dirinya, pedagang senantiasa jujur dalam usaha
dagangannya, demikian pula pemimpin yang jujur dalam melaksanakan tugas
dan kewajibannya.
Berkaitan dengan hal itu Rasulullah saw
bersabda: “Hendaknya kalian berlaku jujur, karena sesungguhnya jujur itu
menunjukkan kalian kepada kebajikan. Dan kebajikan itu menunjukkan
kalian jalan ke surga.” (HR. Muslim)
Jujur dan amanah
Jujur
dapat diartikan bisa menjaga amanah. Jujur merupakan salah satu sifat
manusia yang mulia, orang yang memiliki sifat jujur biasanya mendapat
kepercayaan dari orang lain. Sudah tentu setiap kita sangat tidak
menyukai orang-orang yang suka berbohong atau berdusta. Sifat jujur
merupakan salah satu rahasia diri seseorang untuk menarik kepercayaan
umum karena orang yang jujur senantiasa berusaha untuk menjaga amanah.
Amanah secara etimologis (lughawi) dalam bentuk mashdar dari (amina,
amanatan) yang berarti jujur atau dapat dipercaya. Sedangkan dalam
bahasa Indonesia amanah berarti pesan, perintah, keterangan atau wejangan
AMANAH, sesuatu yang berat karena harus menjaga dan merawat
dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggungjawab titipan orang. Berhasil
atau tidaknya suatu amanat sangat tergantung pada kejujuran orang yang
memegang amanat tersebut. Jika orang yang memegang amanah adalah orang
yang jujur maka amanah tersebut tidak akan terabaikan dan dapat terjaga
atau terlaksana dengan baik. Begitu juga sebaliknya, jika amanah
tersebut jatuh ke tangan orang yang tidak jujur, maka keselamatan amanah
tersebut pasti tidak akan tertolong.
Orang yang mempunyai sifat jujur akan dikagumi dan dihormati banyak
orang. Karena orang yang jujur selalu dipercaya orang untuk mengerjakan
suatu yang penting. Hal ini disebabkan orang yang memberi kepercayaan
tersebut akan merasa aman dan tenang.
Jujur adalah sikap yang
tidak mudah untuk dilakukan jika hati tidak benar-benar bersih. Namun
sayangnya sifat yang luhur ini belakangan sangat jarang kita temui,
kejujuran dan amanah, sekarang ini menjadi barang langka.
Saat
ini kita membutuhkan teladan yang jujur, teladan yang bisa diberi amanah
umat dan menjalankan amanah yang diberikan dengan jujur dan
sebaik-baiknya. Dan teladan yang paling baik, yang patut dicontoh
kejujurannya adalah manusia paling utama yaitu Rasulullah saw. Kejujuran
adalah perhiasan Rasulullah saw. dan orang-orang yang berilmu.
Mari
kita introspeksi masing-masing diri, jujurkah saya selama ini. Sudahkah
amanah, saya sampaikan kepada yang berhak menerimanya, atau saya masuk
dalam kelompok munafik (hipokrit), bahkan mengkhianati diri sendiri,
Allah dan Rasul-Nya. Wallahu a’lam bis shawab.
Dengan demikian, jujur dapat
pula diartikan kehati-hatian diri seseorang dalam memegang amanah yang
telah dipercayakan oleh orang lain kepada dirinya. Karena salah satu
sifat terpenting yang harus dimiliki bagi orang yang akan diberi amanah
adalah orang-orang yang memiliki kejujuran. Karena kejujuran merupakan
sifat luhur yang harus dimiliki manusia. Orang yang memiliki kepribadian
yang jujur, masuk dalam kategori orang yang pantas diberi amanah,
karena orang semacam ini memegang teguh terhadap setiap apa yang ia
yakini dan menjalankan segala sesuatu dengan sungguh-sungguh dan penuh
tanggung jawab.
Berbicara tentang orang-orang yang akan menentukan
masa depan bangsa ini, tak lepas dari membicarakan masalah amanah. Di
tengah berbagai konflik yang ada, mampukah mereka menjalankan amanah
itu? Bila dilihat berdasarkan syariat, amanah ini pengertiannya sangat
luas dan mendalam. Mulai dari “Menyimpan rahasia hingga menjalankan
sesuatu yang menjadi perjanjian atau tugas yang dibebankan kepadanya”.
Amanah
adalah akhlak dari para Nabi dan Rasul. Mereka adalah orang-orang yang
paling baik dalam menjaga amanah. Tidak heran bila Rasulullah dikenal
sebagai orang yang paling terpercaya, terutama dalam menjalankan amanah.
Ada empat elemen penting dalam konsep amanah, yaitu: Menjaga hak Allah
Swt; Menjaga hak sesama manusia; Menjauhkan dari sifat boros dan
berlebihan, artinya amanah memang harus disampaikan dalam kondisi tepat,
tidak ditambahi atau dikurangi; Mengandung sebuah pertanggungjawaban.
Karena
orang yang jujur dan amanah, umumnya akan bertanggungjawab penuh atas
segala yang diberikan atau dibebankan kepadanya maka pasti ia akan
berusaha sekuat tenaga untuk menjalankan kewajibannya tersebut dengan
sungguh-sungguh. Selain itu orang yang dalam lubuk hatinya mengalir
darah kejujuran maka ia tidak akan menyakiti atau melukai perasaan orang
lain. Dan karena itulah orang semacam ini pantas diberi amanah, dengan
kejujurannya ia tidak akan mengecewakan orang yang telah memberinya
amanah.
Kejujuran adalah perhiasan orang berbudi mulia dan orang
yang berilmu. Oleh sebab itu, sifat jujur sangat dianjurkan untuk
dimiliki setiap umat Rasulullah saw. Hal ini sesuai dengan firman Allah
Swt: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang
berhak menerimanya.” (QS. an-Nisa: 58). Dalam ayat lain Allah juga
mengingatkan kita dengan firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu
mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu
mengetahui.” (QS. al-Anfal: 27).
Memelihara amanah
Dari
dua ayat tersebut dapat dipahami bahwa manusia, selain dapat berlaku
tidak jujur terhadap dirinya dan orang lain, adakalanya berlaku tidak
jujur juga kepada Allah dan Rasul-Nya. Maksud dari ketidakjujuran kepada
Allah dan Rasul-Nya adalah tidak memenuhi perintah-Nya. Dengan
demikian, sudah jelas bahwa kejujuran dalam memelihara amanah merupakan
perintah Allah dan dipandang sebagai satu kebajikan bagi orang yang
beriman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar